Harga Tertinggi Obat Terapi Covid-19 Ditetapkan, Pengawasan Dipertanyakan

- Rabu, 14 Juli 2021 | 21:11 WIB
ilustrasi obat terapi Covid-19. (Pixabay)
ilustrasi obat terapi Covid-19. (Pixabay)

MEDAN PETISAH, AYOMEDAN.ID -- Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN-RI) Firman Turmantara mengomentari fenomena penjualan obat terapi Covid-19.

Dia mengatakan, mendulang keuntungan dengan menaikkan harga obat, vitamin, dan alat kesehatan berkali-kali lipat, termasuk obat terapi Covid-19, adalah perbuatan yang amoral dan tidak berperikemanusiaan.  

Meski harga eceran tertinggi (HET) obat terapi Covid-19 sudah ditetapkan oleh Kemenkes, Firman menyebut permasalahannya bukan sampai di HET saja.

Firman mengatakan, pemerintah wajib menundaklanjuti dengan melakukan pengawasan dari implementasi ketetapan HET obat-obat termasuk obat terapi Covid-19.

"Penetapan HET, pengawasan dan penegakkan hukum atau penindakan adalah satu paket (tidak boleh terpisah) karena dalam kondisi darurat (pandemi covid-19). Tidak boleh ada yang memanfaatkan situasi demi meraup keuntungan sebesarnya," jelasnya.

Ia mempertanyakan bagaimana langkah pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah. Menurutnya, praktik pengawasan itu dari dulu pada umumnya sudah ada, akan tetapi dilakukan asal asalan, tidak tuntas, tidak intensif, tidak integral dan tidak kontinyu.

"Jadi pengawasan hanya pada awalnya, ke sananya tidak ada lagi," katanya.

Pengawasan itu ada dua jenis yaitu pengawasan rutin dan pengawasan insidentil. Kata Firman, Pengawasan insidentil melalui beberapa sidak yang seharusnya sering dilakukan dan tentunya harus berujung pada penindakan (law enforcement).

"Tapi justru inilah yang jarang dilakukan sehingga buktinya sangat jarang ada kasus yang sampai ke pengadilan," tutupnya.

Halaman:

Editor: Ananda M. Firdaus

Tags

Terkini

Terpopuler

X